10 Teknik Menulis Buku bagi Pemula, Mudah Banget!

Banyak orang ingin menulis buku, tetapi tidak semuanya berhasil menyelesaikan naskahnya. Biasanya bukan karena tidak punya kemampuan, melainkan karena bingung harus mulai dari mana.

Ada yang sudah punya ide, tetapi sulit mengembangkannya. Ada juga yang sudah menulis beberapa halaman, lalu berhenti karena merasa tulisannya belum bagus. Bahkan, tidak sedikit calon penulis yang terlalu lama menunggu waktu luang, padahal menulis buku justru perlu dimulai dari kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten.

Bagi pemula, menulis buku memang terasa menantang. Namun, prosesnya akan jauh lebih mudah jika kamu memiliki arah yang jelas. Mulai dari menentukan tema, membuat kerangka, mengatur target menulis, sampai melakukan revisi secara bertahap.

Itulah mengapa memahami teknik menulis buku bagi pemula sangat penting. Dengan teknik yang tepat, kamu tidak hanya bisa mulai menulis, tetapi juga lebih mungkin menyelesaikan naskah sampai akhir.

Mengapa Banyak Pemula Sulit Menyelesaikan Buku?

Salah satu masalah terbesar penulis pemula adalah terlalu fokus pada hasil akhir. Mereka ingin tulisannya langsung rapi, menarik, dan layak terbit sejak paragraf pertama. Akibatnya, proses menulis menjadi lambat.

Padahal, draft awal memang tidak harus sempurna. Tugas utama pada tahap awal adalah menuangkan ide terlebih dahulu. Setelah naskah selesai, barulah masuk ke proses penyuntingan dan perbaikan.

Beberapa penyebab pemula sering berhenti di tengah jalan antara lain:

  • belum punya kerangka tulisan,
  • bingung menentukan fokus pembahasan,
  • terlalu banyak ide tetapi tidak terarah,
  • mudah membandingkan diri dengan penulis lain,
  • tidak punya jadwal menulis,
  • dan terlalu cepat mengedit sebelum naskah selesai.

Jika hal-hal tersebut tidak diatasi sejak awal, proses menulis bisa terasa melelahkan. Karena itu, pemula perlu menggunakan strategi yang sederhana, realistis, dan mudah dijalankan.

Teknik Menulis Buku bagi Pemula

Berikut beberapa teknik yang bisa membantu pemula menyelesaikan naskah buku dengan lebih terarah.

Ebook Bisnis

1. Pilih Tema yang Dekat dengan Pengalaman

Menulis akan terasa lebih mudah jika dimulai dari hal yang dekat dengan kehidupan atau pengalaman sendiri. Kamu tidak harus langsung memilih topik yang besar atau terlalu rumit.

Misalnya, seorang guru bisa menulis tentang pengalaman mengajar di kelas. Seorang pebisnis bisa menulis perjalanan membangun usaha. Mahasiswa bisa menulis panduan belajar, pengalaman organisasi, atau tips menyusun skripsi.

Tema yang dekat dengan pengalaman biasanya lebih mudah dikembangkan karena kamu sudah memiliki bahan cerita, sudut pandang, dan contoh nyata. Pembaca juga akan lebih mudah merasa terhubung karena tulisan terasa lebih jujur dan hidup.

2. Tentukan Tujuan Buku Sejak Awal

Sebelum menulis terlalu jauh, coba jawab pertanyaan sederhana: buku ini ingin membantu siapa dan untuk apa?

Pertanyaan ini penting agar isi buku tidak melebar ke mana-mana. Misalnya, jika kamu ingin menulis buku tentang produktivitas untuk mahasiswa, maka pembahasannya perlu disesuaikan dengan masalah mahasiswa. Bukan terlalu umum seperti produktivitas untuk semua orang.

Ebook Bisnis

Dengan tujuan yang jelas, kamu bisa menentukan gaya bahasa, kedalaman materi, contoh yang digunakan, dan alur pembahasan yang sesuai dengan pembaca.

3. Buat Kerangka Buku Sebelum Menulis

Kerangka atau outline adalah peta dalam proses menulis buku. Tanpa kerangka, penulis sering kehilangan arah karena tidak tahu bagian mana yang harus ditulis lebih dulu.

Kerangka tidak harus rumit. Kamu bisa mulai dari susunan sederhana seperti:

  • Pendahuluan
  • Bab 1: Masalah utama yang dialami pembaca
  • Bab 2: Dasar teori atau penjelasan utama
  • Bab 3: Contoh kasus
  • Bab 4: Solusi atau langkah praktis
  • Penutup

Setelah itu, setiap bab bisa dipecah lagi menjadi beberapa subbab. Dengan cara ini, kamu tidak perlu memikirkan seluruh isi buku sekaligus. Cukup fokus menyelesaikan satu bagian kecil terlebih dahulu.

4. Kumpulkan Bahan dan Referensi

Buku yang baik tidak hanya berisi opini penulis. Dibutuhkan data, pengalaman, referensi, atau contoh yang dapat memperkuat pembahasan.

Ebook Bisnis

Referensi bisa berasal dari buku lain, jurnal, artikel terpercaya, wawancara, observasi, atau pengalaman pribadi. Untuk buku nonfiksi, riset sangat penting agar tulisan tidak terasa dangkal.

Namun, riset juga jangan dijadikan alasan untuk menunda menulis. Kumpulkan bahan secukupnya, lalu mulai tulis draft. Jika nanti ada bagian yang kurang kuat, kamu bisa melengkapinya saat proses revisi.

5. Tulis Draft Tanpa Terlalu Banyak Mengedit

Kesalahan yang sering dilakukan pemula adalah mengedit terlalu cepat. Baru menulis satu paragraf, sudah dihapus. Baru membuat satu halaman, langsung merasa tidak bagus.

Padahal, menulis dan mengedit adalah dua proses yang berbeda. Saat menulis draft, fokuslah menuangkan ide. Jangan terlalu sering berhenti hanya untuk memperbaiki kalimat.

Biarkan draft pertama berantakan terlebih dahulu. Setelah naskah selesai, kamu akan lebih mudah melihat bagian mana yang perlu diperbaiki, dipindahkan, atau dipotong.

6. Buat Target Menulis yang Realistis

Menulis buku membutuhkan konsistensi. Karena itu, buat target yang sesuai dengan kemampuan dan rutinitas harian.

Tidak perlu langsung menargetkan 3.000 kata per hari. Untuk pemula, target kecil justru lebih mudah dijaga. Misalnya:

  • 300 kata per hari,
  • 2 halaman setiap malam,
  • 1 subbab setiap minggu,
  • atau 1 bab setiap dua minggu.

Target yang realistis akan membantu menjaga semangat. Lebih baik menulis sedikit tetapi rutin daripada menulis banyak sekali di awal lalu berhenti selama berminggu-minggu.

7. Gunakan Pembukaan yang Dekat dengan Pembaca

Bagian awal buku sangat penting karena menjadi pintu masuk bagi pembaca. Jika pembukaan terasa terlalu kaku, pembaca bisa kehilangan minat sejak awal.

Kamu bisa membuka tulisan dengan pertanyaan, cerita singkat, keresahan pembaca, atau pengalaman pribadi. Misalnya:

“Pernah ingin menulis buku, tetapi bingung harus mulai dari kalimat apa?”

Kalimat seperti ini terasa lebih dekat karena langsung menyentuh masalah yang mungkin dialami pembaca.

8. Pahami Siapa Pembacamu

Menulis buku bukan hanya tentang apa yang ingin kamu sampaikan, tetapi juga tentang apa yang dibutuhkan pembaca.

Jika target pembacanya pemula, gunakan bahasa yang sederhana dan penjelasan bertahap. Jika pembacanya profesional, kamu bisa menambahkan data, studi kasus, atau pembahasan yang lebih mendalam.

Memahami pembaca akan membuat tulisan lebih relevan. Buku juga akan terasa lebih personal karena pembaca merasa kebutuhannya dipahami.

Baca Juga: 3 Cara Menulis Kutipan dari Internet, Gampang Banget!

9. Sediakan Waktu Khusus untuk Menulis

Menunggu waktu luang sering kali membuat naskah tidak pernah selesai. Karena itu, penulis perlu menyediakan waktu khusus, meskipun hanya sebentar.

Misalnya, menulis 30 menit sebelum tidur, 1 jam setiap pagi, atau beberapa jam di akhir pekan. Yang penting, waktu tersebut benar-benar digunakan untuk menulis, bukan sambil membuka media sosial atau mengerjakan hal lain.

Lingkungan juga berpengaruh. Pilih tempat yang membuatmu lebih fokus, seperti kamar, perpustakaan, kafe, atau ruang kerja yang tenang.

10. Biasakan Membaca dan Mencatat Ide

Penulis yang baik biasanya juga pembaca yang aktif. Membaca membantu memperluas kosakata, memperkaya sudut pandang, dan memberi inspirasi dalam menyusun tulisan.

Selain membaca, biasakan juga mencatat ide. Ide bisa muncul kapan saja, saat menonton video, membaca artikel, mengobrol, atau mengalami sesuatu secara langsung.

Catatan kecil ini bisa menjadi bahan penting saat kamu mulai kehabisan ide di tengah proses menulis.

Kesalahan yang Perlu Dihindari Penulis Pemula

Agar proses menulis lebih lancar, ada beberapa kesalahan yang sebaiknya dihindari.

  • Pertama, terlalu lama menunggu inspirasi. Menulis tidak selalu dimulai dari mood yang bagus. Kadang, inspirasi justru muncul setelah kamu mulai menulis.
  • Kedua, terlalu sering membandingkan tulisan sendiri dengan penulis yang sudah berpengalaman. Setiap penulis punya proses masing-masing. Fokuslah pada perkembangan tulisanmu sendiri.
  • Ketiga, tidak melakukan revisi. Draft pertama hampir selalu membutuhkan perbaikan. Revisi bukan tanda tulisanmu buruk, tetapi bagian penting untuk membuat naskah menjadi lebih matang.
  • Keempat, menulis tanpa arah. Inilah mengapa outline sangat penting. Dengan kerangka yang jelas, kamu bisa menjaga pembahasan tetap fokus.

Kesalahan penulis pemula biasanya bukan karena tidak bisa menulis, tetapi karena belum memahami teknik penulisan yang tepat.

Kalau kamu ingin belajar menulis dengan lebih terarah, terutama untuk kebutuhan akademik, Buku Teknik Penulisan Karya Ilmiah bisa jadi panduan yang tepat.

Buku Teknik Penulisan Karya Ilmiah

Buku Teknik Penulisan Karya Ilmiah

Karya tulis ilmiah adalah suatu produk ilmiah yang memuat dan mengkaji, suatu masalah atau terhadap bidang ilmu tertentu oleh perseorangan atau kelompok dengan menggunakan kaidah-kaidah keilmuan. Kaidah keilmuan merupakan aturan baku dan berlaku umum yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan.

🛒 Beli di Website

Isinya membantu kamu memahami cara menyusun gagasan, mengembangkan pembahasan, dan menghasilkan karya ilmiah yang lebih berkualitas. Nah itulah artikel dari Deepublish Store tentang teknik menulis buku bagi pemula. Semoga bermanfaat!

Luqman Hakim

Lulusan Sarjana Teknik Sipil serta memiliki ketertarikan di bidang Pendidikan, Bisnis dan Wisata, saya juga memiliki ketertarikan di dunia penulisan SEO, copywriting, content writing, dan content marketing.

Tinggalkan komentar