Buku Kebinekaan Dalam Bingkai Kearifan Lokal Eksistensi Kearifan Lokal Bali Di Tengah Keberagaman
📝Penulis:
📝Penerbit:
🗓️Tahun
ISBN:
SKU:
DP03290A
🔥 47 orang sedang melihat buku ini · 12 orang membeli dalam 24 jam terakhir
Rp 81.000 Harga aslinya adalah: Rp 81.000.Rp 68.850Harga saat ini adalah: Rp 68.850.
Diskon 15%
🚚 Gratis Ongkir ke seluruh Indonesia
Pilih Format:
🗓️Pembayaran Aman
📒Buru Original
💯Garansi 14 Hari
- Tiba dalam 3–5 hari kerja (JNE/SiCepat)
- Dikirim dari Yogyakarta ke seluruh Indonesia
- Transfer Bank · QRIS · GoPay · OVO · Dana · Indomaret
| Pengarang | Gede Putra Adnyana |
| Institusi | SMAN 1 Banjar |
| Kategori | Buku Referensi |
| Bidang Ilmu | Sosial Budaya |
| ISBN | 978-623-02-0252-0 |
| Ukuran | 17.5×25 cm |
| Halaman | x, 82 hlm |
| Harga | Rp 81.000 |
| Ketersediaan | Pesan Dulu |
| Tahun | 2019 |
Sinopsis Buku Kebinekaan Dalam Bingkai Kearifan Lokal Eksistensi |
| Buku Kebinekaan Dalam Bingkai Kearifan Lokal Eksistensi | Kebinekaan Bangsa Indonesia adalah anugerah Tuhan Yang Maha Kuasa. Kebinekaan itu berwujud dalam bentuk perbedaan agama, etnis, bahasa, dan budaya. Kesadaran tentang kebinekaan telah ada, tumbuh, dan berkembang jauh sebelum Indonesia merdeka. Pada abad ke-14, terminologi kebinekaan telah hadir dalam naskah Kakawin Sutasoma karya Mpu Tantular. Pada pupuh 139, bait 5 ditulis “Bhinnêka Tunggal Ika Tan Hana Dharmma Mangrwa”. Artinya, berbeda-beda, namun hakikatnya sama, karena tidak ada kebenaran yang mendua. Selanjutnya, pendiri bangsa Indonesia menggunakan frasa “Bhinnêka Tunggal Ika” sebagai motto pemersatu bangsa. Kearifan lokal Bali, telah terbukti mampu bertahan di tengah gempuran kuat arus pariwisata. Kearifan lokal Bali dapat berwujud nonbenda (ide/gagasan) dan berwujud artefak (fisik). Dalam konteks pariwisata budaya, kearifan lokal Bali niscaya bergesekan dengan budaya luar (asing). Pecalang, Subak, dan Awig-awig Desa Pakraman adalah kearifan lokal Bali yang nyaris selalu bergesekan dengan dunia pariwisata. Kearifan lokal Bali tersebut berkaitan dengan pemeliharaan keamanan dan kedamaian, penguatan sektor pertanian dan landscape Bali, dan supremasi hukum dalam konteks Tri Hita Karana. Konsep Tri Hita Karana menghendaki adanya hubungan yang harmonis antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia, dan manusia dengan alam. Hal ini semakin mengukuhkan kekuatan kearifan lokal Bali dalam merawat kebinekaan bangsa Indonesia. Buku ini menguraikan upaya-upaya yang dapat dilakukan untuk merawat kebinekaan dengan kearifan lokal Bali. Begitu banyak kearifan lokal Bali yang dapat ditemukan. Namun, dalam buku ini, kearifan lokal Bali yang dikaji untuk merawat kebinekaan adalah Pecalang, Subak, dan Awig-awig Desa Pakraman. Kearifan lokal Bali tersebut, saat ini mendapat tantangan berat akibat dampak langsung maupun tidak langsung dari pariwisata di Bali. Oleh karena itu, perlu ada penguatan secara sungguh-sungguh dan berkelanjutan sehingga eksistensinya semakin membumi. Pecalang, Subak, dan Awig-awig Desa Pakraman dapat dimodernisasi dan diharmonisasi agar mampu mengakomodasi perbedaan agama, etnis, bahasa, dan budaya. Buku Kebinekaan Dalam Bingkai Kearifan Lokal Eksistensi ini diterbitkan oleh Penerbit Buku Pendidikan Deepublish. Lihat juga kategori buku-buku yang lain di Toko Buku Online Deepublish : Buku Novel | Buku Matematika | Buku Resep | Buku Psikologi | Buku Agama Islam | Buku Kedokteran | Buku Ekonomi | Buku Peternakan | Buku Sosial Politik | Buku Kebidanan | |
Informasi Tambahan
| Berat | 0,5 kg |
|---|
