Di artikel sebelumnya, kita sudah membahas apa itu interaksi sosial, mulai dari pengertiannya hingga ciri-ciri dan syarat terjadinya. Nah, pada artikel kali ini, kita akan melangkah lebih jauh dengan mengenal berbagai bentuk interaksi sosial yang sering kita temui dalam kehidupan sehari-hari.
Secara umum, interaksi sosial terbagi menjadi dua jenis. Pertama adalah interaksi sosial asosiatif dan interaksi sosial disosiatif. Setelah tahu tentang pengertian, ciri, dan syarat interaksi sosial yang dibahas pad aartikel sebelumnya, ternyata interaksi sosial memiliki beberapa bentuk. Apa saja sih? Langsung simak ulasannya di sini.
Daftar Isi
Pengertian Interaksi Sosial
Apa itu interaksi sosial? Dilansir dari digilib.uinsa.ac.id, Interaksi sosial adalah hubungan-hubungan sosial yang dinamis. Hubungan sosila yang dimaksud dapat berupa hubungan antar individu yang satu dengan individu lainnya, antara kelompok yang satu dengan kelompok lainnya, maupun antara kelompok dengan individu.
Dalam interaksi juga terdapat simbol, di mana simbol diartikan sebagai sesuatu yang nilai atau maknanya diberikan kepadannya oleh mereka yang menggunakannya
Bentuk Interaksi Sosial
Berikut ini adalah bentuk-bentuk interaksi sosial yang sering terjadi di masyarakat:
Bentuk Asosiatif
Bentuk dan contoh interaksi sosial asosiatif, sebagai berikut.
1. Kerjasama
Kerjasama disebut-sebut sebagai bentuk interaksi sosial karena memiliki tujuan yang sama. Jika kamu ingin mempelajari bentuk-bentuk kerjasama, ada beberapa bentuk kerjasama, yaitu bargaining, kooptasi, koalisi, gotong royong dan joint venture.
- Gotong royong: Gotong royong salah satu bentuk interaksi sosial yang dapat dilakukan oleh satu individu atau kelompok untuk menyelesaikan masalah secara bersama-sama. Landasan dasar gotong royong adalah saling membantu satu sama lain.
- Bergaining: Bargaining lebi sering digunakan dalam bentuk Perjanjian tentang pertukaran jasa atau barang-barang yang dilakukan oleh organisasi. Umumnya dilakukan ole perusahaan atau organisasi besar.
- Ko-optasi: Kooptasi adalah upaya menjaga stabilitas organisasi dengan cara penerimaan unsur baru dalam pelaksanaan politik atau pemilihan kepemimpinan.
- Koalisi: Persatuan dua organisasi lain yang memiliki tujuan yang sama. Dimana tujuan dari koalisi adalah menghasilkan situasi yang stabil untuk waktu tertentu. Istilah koalisi belakangan ini lebih sering kita dengar dalam kancah perpolitikan.
- Joint-ventrue: Kerjasama antar perusahaan dalam proyek tertentu. Misalnya dalam proyek pengeboran, perhotelan dan masih banyak lagi. dimana kerjasama ini bermaksud untuk mencapai tujuan bersama.
2. Akomodasi
Istilah akomodasi lebih sering digunakan pada kondisi, usaha seseorang untuk meredakan pertentangan atau pertikaian yang terjadi, agar mencapai sebuah keseimbangan atau equilibrium.
Interaksi sosial yang berupa akomodasi adalah upaya individu atau kelompok dalam meredam dan menyelesaikan pertentangan yang terjadi, tanpa harus melukai atau menghancurkan pihak lawan. Adapun bentuk-bentuk akomodasi.
- Coercion (Proses peleraian dilakukan atas dasar paksaan)
- Compromise (Orang yang terlibat pertentangan saling meringankan tuntutan)
- Arbitration (Upaya mencapai compromise)
- Mediation (Mengadirkan orang ketiga sebagai penetralan)
- Conciliation (Upaya mempertahankan keinginan yang berselisih demi mencapai tujuan)
- Toleration (akomodasi tanpa persetujuan yang formal bentuknya)
- Stalemate (Orang yang bertentangan memiliki kekuatan yang sama dan seimbang)
- Adjudication (menyelesaikan pertentangan di pengadilan)
3. Asimilasi
Asimilasi adalah interaksi sosial upaya seseorang atau kelompok untuk mengurangi perbedaan yang terjadi. Secara umum, asimilasi timbul disebabkan oleh perbedaan kebudayaan antar kelompok masyarakat dan faktor pergaulan.
Baca juga artikel sosiologi lainnya sebagai berikut.
Bentuk Disosiatif
Proses disosiatif sama seperti kerjasama yang dapat kita temukan di masyarakat dengan bentuk dan arah yang berbeda-beda setiap lokasi dan kebudayaan setempat.
Proses disosiatif disebut juga oppositional processes dimana interaksi sosial ini dipengaruhi atas dasar keterbatasan dan kesamaan pengalaman yang membentuk sebuah kerjasama. Atau secara sederhana dapat dipahami sebagai struggle for existence atau berjuang untuk tetap hidup.
Dimana satu orang dengan orang lain saling membutuhkan dan saling bergantung untuk melengkapi. Proses disosiatif ini pun memiliki tiga bentuk yaitu persaingan, kontravensi dan pertentangan atau pertikaian.
1. Persaingan
Persaingan atau yang disebut competition adalah proses sosial yang dilakukan oleh individu ataupun kelompok yang bersaing demi mendapatkan keuntungan atau mencapai tujuan tertentu.
Bentuk persaingan ini terjadi dapat terbentuk dengan menciptakan perhatian publik untuk mempertajam persepsi dan prasangka, tanpa menggunakan ancaman kekerasan.
2. Kontravensi
Kontroversi atau contravention adalah proses sosial yang berupa penolakan, perlawanan, protes dan kekerasan yang ditujukan pada individu atau sekelompok orang. Kategorisasi kontravensi terbagi menjadi kontravensi antara masyarakat, antagonism keagamaan, kontravensi intelektual dan oposisi moral.
3. Pertentangan
Hal yang paling sering kita temukan dalam interaksi sosial kita adalah pertentangan atau pertikaian. Pertentangan atau conflict adalah upaya individu atau kelompok dalam memenuhi tujuan dengan cara menentang pihak lawan, baik itu dengan ancaman ataupun kekerasan.
Umumnya pertentangan ini dapat terjadi karena faktor perbedaan individu, perbedaan kepentingan, perbedaan sosial dan perbedaan budaya. Sementara jika dilihat dari bentuk-bentuknya, pertentangan ada pertentangan pribadi, rasial, politik dan pertentangan kelas sosial.
Pertentangan ini memang harus segera dilerai. Jika pertentangan dibiarkan, maka dapat berakibat buruk pada solidaritas in group, memecah persatuan kelompok. Tidak hanya itu saja, juga dapat mengakibatkan perubahan kepribadian. Serta dapat mempengaruhi akomodasi, dominasi dan takluk satu pihak tertentu yang mana ini tidaklah baik.
Itulah artikel dari Deepublish Store yang membahas tentang bentuk interaksi sosial asosiatif dan Disosiatif. Semoga artikel ini bermanfaat bagi kamu yang sedang membutuhkan. Terima kasih!
Artikel pertama kali ditulis oleh Muhammad Luqman pada 24 Agustus 2023, kemudian diperbarui pada 8 Januari 2026.
Referensi:
Miftahul, Eka. Interaksi Sosial Antarsiswa Muslim dengan Non Muslim di SMA Kartika IV-3 Surabaya. Undergraduate Thesis, UIN Sunan Ampel Surabaya, 2006. Bab 2. Diakses 8 Jan. 2026.
Kelas Pintar. “Mengenal Bentuk-bentuk Interaksi Sosial.” KelasPintar.id, 4 Sept. 2019. Diakses 8 Jan. 2026


