Sebelum mulai menulis dan menerbitkan buku ajar, tentunya perlu memastikan kesesuaian dengan format buku ajar yang benar. Terutama jika buku ajar tersebut digunakan oleh guru maupun dosen untuk kebutuhan laporan kinerja dan pengembangan karir.
Buku ajar sendiri bisa ditulis oleh kalangan pendidik, mencakup guru dan dosen. Selain itu, bisa juga ditulis oleh kalangan praktisi dan peneliti yang ahli di suatu topik pada suatu bidang keilmuan. Jika ditulis guru dan dosen untuk kebutuhan profesional, maka formatnya harus sesuai ketentuan. Berikut informasinya.
Daftar Isi
Pengertian Buku Ajar
Sebelum membahas format buku ajar, maka dibahas dulu mengenai definisinya. Dikutip dari IPB University, buku ajar adalah buku pegangan untuk suatu mata kuliah yang ditulis dan disusun oleh pakar bidang terkait dan memenuhi kaidah buku teks serta diterbitkan secara resmi dan disebarluaskan.
Sesuai definisi tersebut, maka bisa dipahami bahwa buku ajar disusun dengan tujuan dijadikan pegangan dalam pembelajaran. Buku ajar secara umum dijadikan pegangan pendidik dan peserta didik. Baik untuk pembelajaran tingkat sekolah maupun perguruan tinggi.
Oleh sebab itu, buku ilmiah ini wajib disusun oleh ahli atau pakar di bidangnya. Sehingga data atau informasi di dalamnya bisa dipertanggung jawabkan kebenarannya. Sekaligus memenuhi etika dan standar penulisan buku ilmiah untuk menunjang pembelajaran.
Informasi yang dipaparkan di dalam buku ajar akan dipelajari, dipahami, dan diterapkan oleh peserta didik. Jika ditulis bukan pakarnya, maka ada kekhawatiran isinya tidak relevan maupun sudah usang (ketinggalan zaman). Jadi, buku ajar tidak bisa ditulis sembarang orang sebagaimana buku nonilmiah.
Struktur Buku Ajar
Buku ajar yang termasuk buku ilmiah, maka penulisannya terikat sejumlah aturan. Salah satunya aturan terkait struktur bukunya. Istilah lain untuk menyebut struktur buku ajar adalah sistematika buku ajar. Berikut struktur buku ajar dikutip dari buku Panduan Penulisan Buku Ajar Universitas Muhammadiyah Surakarta karya Wisnu Setiawan, dkk (2021):
1. Bagian Awal
Struktur pertama di dalam buku ajar adalah bagian awal. Bagian awal dari buku ajar umumnya terdiri dari kata pengantar dan prakata, pendahuluan, daftar isi, dan daftar-daftar pendukung. Berikut penjelasannya:
a. Kata Pengantar dan Prakata
Dalam KBBI, kata pengantar adalah pengantar suatu karya tulis yang tertera di bagian depan suatu karangan yang umumnya ditulis oleh penulis karangan tersebut. Sehingga ditulis oleh penulis buku ajar sendiri.
Sementara prakata adalah pengantar suatu karya tulis yang disusun oleh orang lain dan bukan penulis karya tulis tersebut. Prakata pada buku ajar bisa ditulis oleh rekan penulis senior, ahli di bidang terkait isi buku ajar, Profesor perguruan tinggi, dan sebagainya.
b. Pendahuluan
Isi kedua di dalam bagian awal buku ajar adalah pendahuluan yang menjelaskan sejumlah informasi mendasar. Mulai dari latar belakang penyusunan buku ajar tersebut, kesesuaian dengan RPS atau silabus, deskripsi mata kuliah, capaian pembelajaran, dll.
c. Daftar Isi
Isi ketiga dalam bagian awal buku ajar adalah daftar isi. Dalam KBBI, daftar isi adalah lembar halaman yang menjadi petunjuk pokok isi buku beserta nomor halaman. Sehingga menjadi halaman khusus yang mencantumkan daftar keseluruhan isi buku ajar lengkap dengan nomor halaman lokasinya.
d. Daftar-Daftar Pendukung
Isi terakhir pada bagian awal buku ajar adalah daftar-daftar pendukung. Misalnya daftar tabel, daftar gambar, dan sebagainya. Pada dasarnya sama dengan atau bagian dari daftar isi.
Hanya saja spesifik pada jenis konten tertentu di dalam buku ajar. Misalnya daftar gambar akan menjelaskan nama gambar tersebut dan ada di halaman berapa di dalam buku ajar.
2. Bagian Isi (Inti)
Struktur kedua di dalam buku ajar adalah bagian isi yang disebut juga sebagai bagian inti dari buku ajar. Bagian isi buku ajar biasanya terdiri dari beberapa unsur berikut:
a. Tujuan Instruksional
Isi pertama dari bagian inti buku ajar adalah tujuan instruksional. Pada bagian ini menjelaskan mengenai hasil capaian yang diharapkan dari materi yang tertulis di dalam buku ajar.
b. Batang Tubuh
Isi kedua adalah batang tubuh. Yakni keseluruhan bab dan sub bab yang berisi penjelasan terkait materi yang akan dipaparkan. Materi yang dijelaskan menyesuaikan RPS atau silabus dan berdasarkan referensi yang digunakan.
c. Catatan Kaki
Isi ketiga adalah catatan kaki atau footnote. Isinya memberi penjelasan terkait sejumlah istilah yang tercantum di dalam buku ajar. Selain itu, bisa juga sumber dari kutipan.
d. Tabel dan Gambar
Isi selanjutnya dari bagian inti buku ajar adalah tabel dan gambar. Tabel dan gambar menjadi visualisasi dari data atau materi yang dipaparkan di dalam buku ajar. Sehingga materi tersebut lebih mudah dipahami.
e. Latihan dan Contoh Soal
Isi selanjutnya adalah latihan soal atau contoh soal. Secara umum, latihan soal dibuat di akhir pembahasan setiap bab. Sehingga setelah mendapat penjelasan, peserta didik bisa mengerjakan latihan dan contoh soal tersebut.
f. Daftar Pustaka
Terakhir adalah daftar pustaka. Yakni daftar yang memuat seluruh referensi yang digunakan untuk menyusun materi atau keseluruhan materi dalam buku ajar.
3. Bagian Akhir
Bagian terakhir di dalam struktur buku ajar adalah bagian akhir atau disebut juga sebagai bagian penutup. Bagian ini terdiri dari beberapa poin berikut:
- Lampiran, yang berisi informasi-informasi tambahan untuk mendukung isi buku.
- Glosarium, berisi kumpulan definisi, penjelasan, terjemahan pendek dari sebuah kata atau frasa yang tidak akrab bagi pembaca.
- Indeks, berisi daftar kata atau istilah yang dianggap penting yang terdapat dalam buku yang disusun menurut abjad dan memberikan informasi mengenai halaman tempat kata itu ditemukan.
Sebagai informasi tambahan, struktur buku ajar yang dijelaskan di atas adalah bagian isi buku. Dimana belum mencakup halaman sampul atau halaman judul. Ketika buku ajar diterbitkan, penerbit biasanya akan meminta kelengkapan halaman. Misalnya biografi penulis, sinopsis singkat isi buku ajar, dll sesuai kebijakan penerbit tersebut.
Format Buku Ajar
Format buku ajar juga sudah diatur atau ditetapkan pihak terkait. Misalnya, buku ajar yang ditulis oleh dosen. Maka ketika akan ditulis dan diterbitkan mengikuti ketentuan format yang ditetapkan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti).
Selain itu, juga mengikuti ketentuan format yang ditetapkan perguruan tinggi dan biasanya mengikuti juga kebijakan Ditjen Dikti. Berikut adalah format umum dari buku ajar:
1. Ukuran Kertas atau Ukuran Buku
Format yang pertama dari penulisan buku ajar adalah ukuran kertas atau ukuran buku. Ukuran ini biasanya penting untuk proses cetak di jasa penerbitan buku. Umumnya buku ajar dicetak dalam ukuran Unesco (15,5 cm x 23 cm).
Selain Unesco, buku ajar juga sering dicetak dalam ukuran A4 (29,7 x 21 cm). Biasanya perguruan tinggi akan menyusun dan menerbitkan buku panduan. Jadi, para dosen tinggal mengikuti ketentuan yang termuat dalam panduan tersebut.
2. Format Pengaturan Margin
Format buku ajar berikutnya adalah terkait pengaturan margin atau batas halaman naskah buku. Pengaturan ini dilakukan di aplikasi pengolah kata yang digunakan untuk menulis naskah buku ajar. Misalnya di Ms. Word.
Pengaturan margin menyesuaikan ketentuan dari pihak perguruan tinggi maupun Ditjen Dikti. Umumnya margin diatur margin atas dan margin bawah 3 cm. Namun, jika perguruan tinggi atau sekolah menetapkan ukuran margin berbeda. Maka para dosen dan guru tinggal menyesuaikan.
3. Jenis dan Ukuran Font
Format buku ajar berikutnya adalah berkaitan dengan font atau huruf yang digunakan. Mencakup jenis font dan ukuran yang harus diatur agar sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Dalam aturan jenis font, biasanya buku ajar menggunakan font Times New Roman. Namun, di beberapa perguruan tinggi mungkin memilih jenis font lain. Kemudian untuk ukuran, biasanya pada isi naskah memakai ukuran 12 pt Times New Roman.
Kemudian untuk ukuran font pada judul, sub judul, dan bagian lain. Biasanya ditetapkan lebih besar dari 12 pt. Misalnya 16 pt, 14 pt, atau ukuran lain, menyesuaikan kebijakan dari perguruan tinggi atau sekolah yang menaungi penulis (dosen dan guru).
4. Jarak Spasi
Format buku ajar selanjutnya adalah kebijakan berkaitan dengan pengaturan jarak spasi pada lembar kerja naskah. Pengaturan ini sama seperti margin dan jenis font, yakni dilakukan di aplikasi pengolah kata yang digunakan menyusun naskah buku ajar.
Jarak spasi untuk buku ajar biasanya 1,5 spasi. Namun, di beberapa perguruan tinggi maupun sekolah bisa jadi menetapkan jarak spasi berbeda. Sehingga penulis buku ajar tinggal menyesuaikan ketentuan yang ada.
5. Jumlah Halaman
Format buku ajar juga mencakup jumlah halaman. Khusus untuk buku ajar yang ditulis oleh dosen dan untuk pelaporan BKD serta kenaikan jabatan fungsional. Maka jumlah halaman minimal 49 lembar.
Jumlah halaman ini membantu memenuhi standar pengajuan ISBN oleh pihak penerbit. Dimana minimal ada 49 halaman. Namun, jika buku ajar tersebut disusun dan diterbitkan dengan dukungan pendanaan dari program hibah. Maka umumnya diminta minimal 200 halaman.
Jika mendapatkan hibah penerbitan buku ajar, maka pastikan membaca ketentuan program tersebut. Sebab pihak penyelenggara bisa jadi memiliki ketentuan tersendiri terkait jumlah halaman dan aspek lain dalam format dari buku ajar.
Kriteria Buku Ajar
Setelah memahami format buku ajar yang baik seperti apa. Maka tentu perlu memahami juga kriteria dari buku ajar yang baik bagaimana. Berikut beberapa kriteria yang sebaiknya diusahakan dipenuhi:
1. Memenuhi Ketentuan Struktur Umum Buku Ajar
Kriteria buku ajar yang baik berawal dari pemenuhan ketentuan struktur. Jadi, struktur merupakan kaidah atau aturan paten dalam menulis karya tulis ilmiah. Buku ajar termasuk karya tulis ilmiah.
Oleh sebab itu, ketika mulai menyusunnya wajib memastikan menyesuaikan kaidah struktur buku ajar. Struktur ini memastikan isi dari buku ajar sesuai dengan standar yang ada. Sehingga benar-benar menunjang kegiatan pembelajaran.
2. Memenuhi Ketentuan Format Buku Ajar
Kriteria buku ajar yang baik berikutnya adalah memenuhi ketentuan format buku ajar. Format dari buku ajar juga termasuk kaidah dalam menulis dan menerbitkan buku ajar. Sehingga sifatnya wajib diikuti atau dipenuhi.
Mulai dari ukuran cetak, jenis font dan ukuran yang digunakan, pengaturan margin, dan sebagainya sesuai penjelasan sebelumnya. Format yang sudah sesuai ketentuan dan standar akan membuat buku ajar tersusun dengan baik.
Penetapan format akan membuat buku ajar lebih seragam. Sekalipun ditulis oleh penulis berbeda dari institusi pendidikan yang berbeda juga. Hal ini akan menciptakan kejelasan standar yang memudahkan penulisan buku ajar selanjutnya.
3. Sesuai RPS atau Silabus
Buku ajar yang baik akan disusun menyesuaikan dengan isi dari RPS pada perguruan tinggi. Sementara di tingkat sekolah, buku ajar akan sesuai dengan silabus yang disusun guru di awal semester.
Sehingga susunan materi di dalam buku ajar relevan dengan RPS dan silabus tersebut. Kemudian relevan dijadikan pegangan selama pembelajaran dan mendukung tercapainya capaian pembelajaran.
4. Menggunakan Gaya Bahasa Semi Formal
Buku ajar ditargetkan untuk kalangan peserta didik, yakni siswa dan mahasiswa. Dimana dijadikan pegangan selama mengikuti pembelajaran. Sekaligus bisa dijadikan pegangan saat pembelajaran mandiri di rumah.
Oleh sebab itu, kriteria buku ajar yang baik salah satunya adalah menggunakan bahasa semi formal. Sehingga cenderung lebih santai dan memakai kosakata umum agar mudah dipahami para peserta didik.
5. Menyertakan Pendapat Pakar
Penyusunan buku ajar tentu akan menggunakan sejumlah referensi ilmiah. Baik publikasi dari jurnal, prosiding, buku, dan data statistik dari website kredibel. Sehingga sangat penting untuk mengutip pendapat pakar.
Misalnya saat menjelaskan definisi suatu materi pembelajaran. Maka pendapat pakar bisa memberi definisi yang lebih jelas dan kredibilitasnya tinggi. Begitu juga untuk informasi lain yang akan dicantumkan di dalam buku ajar.
6. Isi Tidak Menyimpang dari UUD 1945 dan Pancasila
Kriteria selanjutnya dari buku ajar yang baik adalah tidak menyimpang dari UUD 1945 dan Pancasila. Sehingga semua data atau informasi di dalam buku ajar tidak ada bentuk pelanggaran hukum yang berlaku di Indonesia.
7. Diterbitkan Penerbit Kredibel
Kriteria yang ketujuh, buku ajar wajib diterbitkan oleh penerbit kredibel. Baik penerbit yang dikelola suatu perguruan tinggi, badan ilmiah, maupun suatu organisasi resmi. Sehingga buku ajar terbit sesuai standar umum yang berlaku di dunia penerbitan buku.
8. Terbit dengan ISBN
Kriteria yang terakhir, buku ajar diterbitkan dengan ISBN. Jika sudah memilih penerbit resmi. Maka biasanya akan dibantu penerbit untuk mendapatkan ISBN yang diterbitkan Perpusnas.
Bagi Anda yang akan menyusun buku ajar, maka selain mengikuti ketentuan format buku ajar yang berlaku. Juga harus mengusahakan buku ajar tersebut memenuhi beberapa kriteria yang dijelaskan di atas. Sehingga menunjang pembelajaran dengan maksimal.
Rekomendasi Buku Penulisan
Menyusun buku ajar yang baik membutuhkan pemahaman tentang struktur dan kriteria yang tepat. Untuk membantu kamu dalam proses penulisan, kami merekomendasikan buku-buku penulisan seperti di bawah ini.
Menyusun buku ajar yang efektif memerlukan pemahaman tentang struktur dan kriteria yang tepat. Buku penulisan yang kami rekomendasikan dapat membantu memahami cara menyusun materi ajar dengan lebih sistematis dan mudah dipahami.
Itulah artikel dari Deepublish Store tentang format buku ajar yang benar sesuai ketentuan yang telah ditetapkan. Semoga bermanfaat!
Referensi:
Institut Pertanian Bogor University. (2024). Ciri-Ciri Buku Ajar. Diakses pada 25 November 2025
Setiawan, W., Saputra, A., & Markhamah. (2021). Panduan Penulisan Buku Ajar Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Universitas Medan Area. (2024). Sistematis Penulisan Buku Ajar Standar Dikti. Diakses pada 25 November 2025
Universitas Medan Area. (n.d). Format Penulisan Buku Ajar.


