logo deepublish store terbaru

Konflik Sosial: Pengertian, Penyebab dan Contoh

konflik sosial
Bagikan

Artikel ini berisi pengertian konflik sosial, faktor-faktor penyebab, dampak negatif dan positif bahkan beserta dengan contoh konflik sosial.

Pernahkah mengalami konflik sosial baik dengan teman satu kelas, teman kampus, atau bahkan anggota dalam keluarga sendiri? Adanya konflik yang menyebabkan perseteruan memang menjadi warna dalam hubungan sosial. 

Namun, konflik seperti ini tentunya tidak hanya dibiarkan begitu saja. Perlu ditangani agar tidak berkembang dan memunculkan dampak yang lebih serius. Sebab konflik ini kedepannya bisa menyebabkan hubungan kurang harmonis, tidak hanya antar individu. Namun bisa juga antar golongan, antar masyarakat desa, dan seterusnya. 

Lalu, apa yang menjadi penyebabnya dan apa saja yang perlu dilakukan untuk mengatasinya? 

Pengertian Konflik Sosial

Konflik sosial memiliki definisi sebagai suatu kondisi dimana muncul percekcokan, perselisihan, atau pertentangan antara dua kelompok atau lebih yang dipicu oleh adanya perbedaan dalam hubungan sosial. 

Adanya perbedaan pendapat atau pandangan yang tidak bisa dikontrol bisa menyebabkan perselisihan. Sehingga bisa membuat hubungan sosial antara dua orang atau dua kelompok menjadi merenggang. 

Konflik akibat adanya perselisihan dalam hubungan sosial memang hal lumrah, hal ini tidak bisa dihindari. Sebab pada saat seseorang menjalin hubungan sosial atau bersosialisasi. Maka ada kemungkinan terjadi silang pendapat, kesalahpahaman, dan sebagainya. 

Keliru dalam berucap, bertingkah laku, memperlakukan seseorang, dan sebagainya juga bisa memicu konflik secara sosial tersebut. Meskipun umum, karena dalam satu keluarga sekalipun konflik ini sering terjadi sebaiknya tidak dibiarkan begitu saja. 

Konflik sekecil apapun, dan apapun faktor pemicunya perlu ditangani dengan segera untuk mencegah dampak yang lebih kompleks lagi. Sebab konflik yang dibiarkan tanpa penanganan bisa berkembang dan merusak hubungan sosial dalam jangka panjang. 

Inilah alasan kenapa ada yang dulunya berteman akrab kemudian karena beberapa hal, bisa merenggang dan bahkan tidak ada komunikasi sama sekali. Hal serupa juga terjadi dalam hubungan keluarga. Hal ini terjadi karena konflik secara sosial bisa terjadi kapan saja dan dialami oleh siapa saja. 

Faktor Penyebab Konflik Sosial

Konflik sosial tidak terjadi begitu saja, ada faktor tertentu yang menjadi pemicu atau penyebabnya. Secara umum, konflik secara sosial dapat terjadi karena sejumlah faktor berikut ini: 

1. Perbedaan Individu 

Perbedaan menjadi faktor pemicu utama dari adanya konflik. Pada konflik secara sosial perbedaan antar individu bisa menjadi faktor pemicunya. Perbedaan ini bisa karena perbedaan pandangan, pendapat, dan lain sebagainya. 

Perbedaan menjadi hal lumrah dalam hubungan sosial, sedekat apapun hubungan tersebut tentu akan menjumpai perbedaan. Perbedaan yang terlalu jauh bisa menyebabkan konflik. 

Apalagi jika salah satu pihak atau semua pihak saling memaksa pihak lain untuk mengikuti kemauan dan pendapat mereka. Hal inilah yang kemudian menyebabkan konflik secara sosial susah untuk dihindari. 

2. Adanya Perbedaan Kepentingan 

Dalam hubungan sosial, setiap individu dan setiap kelompok memiliki kepentingan sendiri-sendiri. Pada beberapa kondisi perbedaan kepentingan ini bisa ditoleransi dan kemudian semua pihak saling mencoba menahan kepentingan pribadi demi kepentingan bersama. 

Hanya saja pada kondisi yang lainnya, perbedaan kepentingan ini terlalu kuat apalagi jika dalam suatu kelompok ada kelompok minoritas dan mayoritas. Kelompok mayoritas secara umum akan memiliki suara lebih besar efeknya. Sehingga pendapat mereka lebih didengar dan menjadi keputusan bulat. 

Perbedaan kepentingan ketika tidak bisa dikontrol dan menyebabkan pengabaian terhadap kepentingan sosial atau bersama. Maka akan berakhir menjadi konflik sosial. Dimana muncul pertentangan, pertengkaran, dan keributan akibat perbedaan kepentingan tersebut.

3. Perbedaan Latar Belakang Budaya 

Konflik secara sosial juga bisa terjadi karena adanya perbedaan latar belakang budaya. Saat hidup bermasyarakat, maka akan ada kemungkinan bertemu dengan masyarakat lain dalam satu lingkungan yang latar belakang budayanya berbeda. 

Misalnya saja masyarakat di Jakarta, di suatu wilayah ada pendatang yang berasal dari Surabaya, Semarang, dan kota lainnya di provinsi dan pulau yang berbeda. Latar belakang budaya masing-masing tentu berbeda. 

Hal ini akan menciptakan perbedaan mengenai cara bertutur kata, cara bersosialisasi dalam bentuk tingkah laku, dan sejenisnya. Misalnya, bagi masyarakat di daerah A mengatakan kata X tidaklah kasar namun tidak bagi masyarakat daerah B. 

Perbedaan ini bisa menyebabkan kesalahpahaman, satu orang tidak bermaksud menghina lawan bicaranya. Namun oleh lawan bicara dianggap menghina dan berkata kasar. Kondisi ini kemudian menjadi konflik di tengah masyarakat.

Download EBook Gratis

Baca juga: Perubahan sosial budaya

4. Perbedaan Etnis 

Konflik sosial juga bisa terjadi akibat perbedaan etnis. Dalam satu lingkungan masyarakat ada kemungkinan beberapa berasal dari etnis yang berbeda. Hal ini lumrah, khususnya di daerah yang sering dijadikan tujuan perantauan. 

Perbedaan etnis kadang dianggap sebagai perbedaan yang tidak semestinya ada. Perbedaan yang tidak dapat diubah ini kemudian memunculkan rasa benci karena satu dan lain hal. Hal ini mendorong dua etnis masyarakat yang berbeda berseteru. 

Inilah alasan kenapa ada masa dimana di Indonesia terjadi kasus pembantaian etnis tertentu oleh masyarakat sipil maupun aparat. Pembantaian tersebut adalah dampak kompleks dari perbedaan etnis yang tidak bisa ditoleransi dan tidak bisa dipahami. 

5. Perbedaan Ras 

Perbedaan dari segi ras juga bisa memicu terjadinya konflik sosial. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia atau KBBI, kata ras memiliki definisi sebagai golongan bangsa sebagai ciri fisik. Sehingga ras berhubungan dengan bentuk atau tampilan fisik. 

Antara orang Asia dengan orang Amerika, Australia, dan Afrika akan dijumpai perbedaan mencolok secara fisik. Ras Asia, beberapa memiliki ras asiatic mongoloid ada juga malayan mongoloid. Asiatic mongoloid dijumpai di Jepang, Korea, China, dan sebagainya yang identik dengan kulit putih dan mata sipit. 

Sementara malayan mongoloid adalah ras yang umum dijumpai di Indonesia. Yakni yang punya warna kulit kuning langsat sampai kecoklatan dan mata besar. Perbedaan ras yang menunjukan perbedaan fisik bisa menyebabkan konflik. Misalnya ada ras lain yang mengolok-olok fisik ras lain sehingga menyebabkan ketegangan sosial. 

6. Perbedaan Agama 

Perbedaan agama juga bisa menyebabkan konflik sosial. Agama di seluruh dunia jenisnya ada banyak sekali. Indonesia sendiri sampai saat ini ada enam agama yang diakui oleh pemerintah. Yakni Islam, Kristen, Hindu, Budha, Katolik, dan Kong Hu Cu. 

Agama yang berbeda bisa memberi pandangan berbeda, perilaku berbeda, dan juga ibadah yang berbeda. Misalnya pada umat Islam yang mengenal ibadah puasa, sholat, dan sebagainya. Bisa jadi ibadah seperti ini tidak ada di agama lain. 

Perbedaan ini lumrah, karena dasar agama yang merujuk pada keyakinan hati juga berbeda. Hanya saja perbedaan agama bisa menyebabkan konflik ketika pemeluk agama lain merasa lebih baik dan menunjukkannya. 

Kemudian bisa juga menjadi konflik ketika ada bumbu cinta, yakni cinta beda agama yang biasanya terhalang oleh restu orangtua. Konflik kemudian tidak dapat dihindari karena adanya perbedaan agama yang dianut oleh masing-masing individu.

Dampak Negatif Konflik Sosial

Adanya konflik di bidang sosial kemudian memunculkan sejumlah dampak negatif dan positif. Dampak negatif yang terjadi cukup kompleks tergantung pada faktor pemicu konflik yang terjadi. Secara umum, berikut dampak negatif yang bisa terjadi: 

1. Hubungan Sosial Menjadi Retak 

Adanya konflik antara dua individu atau antara dua kelompok dalam masyarakat. Sudah tentu akan membuat hubungan keduanya menjadi kurang harmonis, dan kemudian menjadi retak. 

Konflik yang tidak ditangani, kemudian masing-masing pihak hanya fokus mempertahankan pendapat dan pendiriannya. Maka konflik akan berlangsung lebih lama dan membuat hubungan keduanya menjadi retak. 

Hubungan yang awalnya baik menjadi tidak baik, kemudian masing-masing mencari pendukung atas pendapatnya. Jumlah orang yang terlibat dalam retaknya hubungan sosial mereka akan berkembang. Konflik pun bisa terus berkembang. 

2. Mengancam Normal dan Nilai Sosial 

Konflik sosial yang tidak tertangani dengan baik juga bisa mengancam norma dan nilai sosial. Suatu tingkah laku yang dianggap tidak baik bisa menjadi baik ketika konflik terjadi. 

Misalnya saja, kebiasaan menggunjing keburukan orang lain. Kebiasaan ini jelek, namun karena sakit hati dengan seseorang maka menggunjingkan kejelekannya dianggap baik. Hal ini bisa memunculkan fitnah dan membuat konflik semakin berkepanjangan. 

Contoh lain, adalah saat ada dua kelompok berseteru dan menyebabkan salah satu mengalami kesulitan pangan. Maka kelompok ini bisa melakukan penjarahan, dimana sebelumnya penjarahan dinilai tindakan tidak benar dan melanggar norma. 

3. Muncul Prasangka Buruk 

Konflik di ranah sosial juga bisa membuat setiap orang punya prasangka buruk terhadap orang di sekitarnya. Bahkan prasangka buruk ini akan diberikan kepada orang yang tidak tahu menahu dan tidak terlibat sama sekali atas masalah yang terjadi. 

Kondisi ini tentu akan merusak hubungan sosial lebih banyak orang dan menjadikan kepercayaan sebagai sesuatu yang sangat mahal dan sulit untuk diberikan. Padahal, manusia adalah makhluk sosial. Tanpa keberanian memberi rasa percaya maka hidupnya justru semakin sengsara. 

4. Menimbulkan Gangguan Lingkungan 

Konflik berkepanjangan antara dua orang dan berkembang menjadi dua kelompok bahkan lebih, juga bisa menimbulkan gangguan lingkungan. Misalnya seperti contoh sebelumnya, dimana terjadi penjarahan, kekerasan, pencurian, dan lain-lain. 

5. Meningkatkan Kecemasan Masyarakat 

Adanya gangguan di lingkungan tempat tinggal seperti pencurian bahkan pembantaian pada etnis tertentu. Sudah tentu meningkatkan kecemasan masyarakat karena selalu merasa tidak aman. Hal ini tentu menurunkan kualitas hidup, tidak hanya individu yang berkonflik namun seluruh masyarakat di suatu wilayah. 

6. Kerusakan pada Harta Benda 

Penjarahan, adanya pengrusakan, dan sebagainya akibat konflik secara sosial kemudian membuat masyarakat mengalami kerugian harta benda. Rumah yang rusak, mobil yang rusak, dan sebagainya merupakan dampak negatif dari konflik yang berkepanjangan di lingkungan mereka.

Keselamatan Masyarakat Terancam 

Tak hanya mengancam keselamatan harta dan benda, konflik sosial juga bisa mengancam keselamatan manusia atau masyarakat. Seperti contoh sebelumnya, dimana ada pembantaian etnis tertentu yang tentu menghilangkan banyak nyawa dari etnis sasaran. 

Cara Mengatasi Konflik Sosial

Konflik yang terjadi di tengah masyarakat pada umumnya bisa diatasi dan semakin dini diatasi maka semakin baik. Khusus untuk konflik secara sosial, berikut beberapa bentuk cara untuk mengatasinya: 

A. Mediasi 

Mengatasi konflik di ranah sosial secara umum bisa diatasi dengan tiga cara, yang pertama adalah mediasi. Istilah ini tentu tidak asing karena dari sejumlah konflik yang terjadi di Indonesia mayoritas diselesaikan dengan cara mediasi. 

Mediasi sendiri adalah proses perundingan untuk memperoleh kesepakatan antara kedua belah pihak yang berkonflik atau berseteru. Mediasi ini memerlukan mediator atau pihak penengah yang sifatnya netral. Tidak memihak untuk membantu proses mediasi berjalan lancar dan mendapatkan kesepakatan. 

Kesepakatan ini tentunya menguntungkan kedua belah pihak. Jika tidak ada solusi yang menguntungkan kedua belah pihak maka akan ada proses tawar menawar. Bisa juga ada kondisi dimana salah satu pihak mengalah saat mediasi dilakukan. 

B. Arbitrasi 

Arbitrasi juga menjadi solusi yang bisa diambil untuk menyelesaikan konflik atas hubungan sosial antara dua individu atau kelompok. Arbitrasi adalah proses memperoleh kesepakatan dengan perjanjian yang disepakati kedua belah pihak. 

Perjanjian ini sifatnya resmi dan memiliki kekuatan hukum, dimana ditandatangani oleh kedua belah pihak dan di hadapan beberapa saksi. Sama seperti mediasi, proses merumuskan isi perjanjian membutuhkan pihak ketiga yang sifatnya netral. 

C.Konsiliasi 

Cara mengatasi konflik sosial selanjutnya adalah melakukan konsiliasi. Konsiliasi pengertiannya tidak berbeda jauh dengan dua metode sebelumnya. Yakni kedua belah pihak saling membentuk konsiliasi dan mendiskusikan keputusan terbaik. 

Keputusan ini sifatnya netral, jika untung maka keuntungan dibagi sama rata. Demikian halnya jika ada kesepakatan yang cenderung merugikan salah satu pihak. Maka di poin selanjutnya akan dibuat menguntungkan pihak yang tadinya sedikit dirugikan. 

Pada dasarnya, menyelesaikan konflik perlu mempertemukan dua belah pihak yang berseteru untuk menyampaikan keinginan atau pandangan masing-masing. Kemudian oleh pihak penengah akan diberi solusi yang menguntungkan kedua belah pihak. Sehingga keduanya kemudian merasa sepakat, dan konflik terselesaikan saat itu juga. 

Contoh Konflik Sosial

Supaya lebih paham lagi mengenai pengertian dan dampak dari konflik di ranah sosial. Maka bisa mengetahui juga berbagai contoh dari konflik-konflik semacam ini. Berikut beberapa contoh tersebut: 

1. Anak Minta Smartphone 

Contoh konflik secara sosial yang pertama adalah dari kasus seorang anak yang minta dibelikan smartphone kepada orangtuanya. Permintaan ini bisa memunculkan perbedaan. 

Pada sisi anak, kebutuhan smartphone perlu dipenuhi untuk menyesuaikan dengan apa yang dimiliki teman sekolahnya. Sementara di sisi orangtua, smartphone belum menjadi kebutuhan anak yang umurnya masih kecil. Maka ada kemungkinan anak kecewa, marah-marah, atau sampai kabur dari rumah. 

2. Demo Kenaikan Upah Buruh 

Demo kenaikan upah buruh yang terjadi setiap akhir tahun menjelang perubahan penentuan jumlah upah minimum adalah contoh konflik di ranah sosial. Konflik ini terjadi karena ada perbedaan kepentingan, antara pelaku usaha dan buruh atau karyawan. 

Kedua belah pihak punya kepentingan untuk mendapatkan keuntungan secara finansial sebesar mungkin. Para buruh ingin gaji naik dalam jumlah besar agar kebutuhan hidup dari kebutuhan pokok sampai komplementer bisa terpenuhi. 

Sementara di sisi perusahaan, tentu dengan naiknya upah karyawan membuat nilai profit menurun untuk membayar beban gaji tersebut. Maka ada perbedaan pendapat, satu sisi ingin upah naik sementara di sisi lain sebaliknya karena beda kepentingan. 

3. Perang Pemilu 

Saat pemilu digelar, khususnya pemilu pemilihan Presiden RI pada tahun 2019 lalu. Dimana kandidat presiden hanya ada dua calon, yang membelah masyarakat menjadi dua kubu yang berbeda. Perbedaan mana yang didukung kemudian memicu konflik. 

Terjadi perang argumen di media sosial, dan bahkan ada akun khusus yang dibentuk untuk mendukung calon masing-masing. Perang di media sosial tidak dapat dihindari dan satu sama lain memberi julukan yang buruk pada kubu lawan. Inilah salah satu bentuk konflik sosial. 

Konflik sosial apapun penyebabnya memang perlu ditangani dengan baik, biasanya perlu dilakukan diskusi. Sehingga ada kesepakatan antara kedua belah pihak. Semakin dini diselesaikan maka semakin baik untuk menghindari dampak lebih luas dan lebih serius. Adapun penyelesaiannya bisa menggunakan salah satu dari tiga cara yang dijelaskan diatas.

Baca juga artikel sosial lainnya hanya di Blog Toko Buku Online Deepublish

Baca Materi Penting Lainnya

Ada yang bisa Bang Jon Bantu?

Bantuan, transaksi, reseller dan pertanyaan umum

Ingin pengadaan buku/bahan pustaka dan kerjasama?